DWDM(dense wavelength Division Multiplexing)

pada awal tahun 1980 diperkenalkan teknologi WDM(wavelength Division Multiplexing), yaitu yang mampu memanfaatkan cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda (tiap panjang gelombang mengandung sinyal informasi yang berbeda yang kemudian dimultiplek menjadi satu sinyal agar dapat dikirimkan dalam satu core serat optik secara simultan. WDM pada saat itu hanya mempunyai 2 kanal yang terletak pada panjang gelombang 1310 dan 1550 nm.
teknologi DWDM merupakan perbaikan teknologi WDM yang telah di kembangkan sebelumnya, yaitu memperkecil spasi antar kanal, sehingga terjadi peningkatan jumlah kanal yang mampu di multipleks. Inti perbaikan terdapat pada infrastruktur yang digunakan, seperti jenis laser, tapis dan penguat. perbaikan teknologi ini dipicu dengan adanya perkembangan teknologi fotonik. seperti penemuan EDFA(erbium doped fiber amplifier) sebagai penguat optis, dan laser dengan presisi yang lebih tinggi yang disebut teknlogi DWDM(dense wavelength division multiplexing). penemuan EDFA memungkinkan DWDM beroperasi pada daerah 1550 nm yang memiliki atenuasi rendah, sementara sebagian besar sistem WDM konvensional masih beroperasi pada daerah 1310 nm dengan tingkat atenuasi lebih tinggi.
3.1. Konsep Dasar DWDM
Masukan sistem DWDM berupa trafik yang memiliki format data dan pesat bit yang berbeda dihubungkan dengan laser DWDM. Laser tersebut akan mengubah masing-masing sinyal informasi dan memancarkan dalam panjang gelombang yang
berbeda-beda λ1, λ2, λ3 ……, λN,. Kemudian masing-masing panjang gelombang tersebut dimasukkan ke dalam MUX (multiplexer), dan keluaran disuntikkan ke dalam sehelai serat optis. Selanjutnya keluaran MUX ini akan ditransmisikan sepanjang jaringan
serat. Untuk mengantisipasi pelemahan sinyal, maka diperlukan penguatan sinyal sepanjang jalur transmisi.
Sebelum ditransmisikan sinyal ini diperkuat terlebih dahulu dengan menggunakan penguat akhir (postamplifier)untuk mencapai tingkat daya sinyal yang
cukup. ILA digunakan untuk menguatkan sinyal Sistem DWDM memiliki lapisan fotonika utama yang bertanggung jawab untuk melewatkan data optis melalui jaringan, dengan beberapa prinsip dasar, yaitu spasi kanal, arah aliran sinyal, dan pelacakan sinyal.

Spasi kanal
Spasi kanal merupakan jarak minimum antar panjang gelombang agar tidak terjadi interferensi.
Standarisasi spasi kanal perlu dilakukan agar sistem DWDM dari berbagai vendor yang berbeda dapat saling berkomunikasi. Jika panjang gelombang operasi berbanding terbalik dengan frekuensi, hubungan bedanya dikenal dalam panjang gelombang masingmasing sinyal. Faktor yang mengendalikan besar spasi kanal adalah bandwidth pada penguat optis dan adalah bandwidth pada penguat optis dan kemampuan penerima mengidentifikasi dua set panjang gelombang yang lebih rendah dalam spasi kanal. Kedua faktor itulah yang membatasi jumlah panjang gelombang yang melewati penguat.
Saat ini terdapat dua pilihan untuk melakukan standarisasi kanal, yaitu menggunakan spasi lamda atau spasi frekuensi. Hubungan antara spasi lamda
dan spasi frekuensi adalah:
∆ ∆ f
c
≈ −
λ
λ 2
………..(1)
dengan:
∆f = spasi frekuensi (GHz)
∆λ = spasi lamda (nm)
λ = panjang gelombang daerah operasi (nm)
c = 3 x 108 m/s.

Konversi spasi lamda ke spasi frekuensi (dan sebaliknya) akan menghasilkan nilai yang kurang presisi, sehingga sistem DWDM dengan satuan yang berbeda akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. ITU-T kemudian menggunakan spasi frekuensi sebagai standar penentuan spasi kanal yang digunakan.
(λ=1550 nm)

Kelebihan Teknologi DWDM
Kelebihan teknologi DWDM adalah transparan terhadap berbagai trafik. Kanal informasi masingmasing panjang gelombang dapat digunakan untuk melewatkan trafik dengan format data dan pesat bit yang berbeda. Ketransparanan sistem DWDM dan kemampuan add/drop akan memudahkan penyedia layanan untuk melakukan penambahan dan atau pemisahan trafik. Berkaitan dengan ketransparanan sistem DWDM, dikenal a dua sistem antarmuka, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup.
Elemen jaringan DWDM sistem terbuka memungkinkan penjamak SONET/SDH, switch IP dan
ATM disambungkan secara langsung pada jaringan DWDM. Sedangkan pada sistem tertutup, switch IP dan atau ATM tidak dapat secara langsung dihubungkan ke jaringan DWDM, namun memerlukan perantaraan penjamak SONET/SDH yang berasal dari
vendor yang sama dengan vendor perangkat DWDM yang digunakan Perbandingan teknologi serat optis konvensional dan teknologi DWDM adlah sebagai berikut.

1. Kapasitas serat optis yang dipakai lebih optimal.
DWDM dapat mengakomodir banyak cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda dalam
sehelai serat optis, sedangkan teknologi serat optis konvensional hanya dapat mentransmisikan satu panjang gelombang dalam sehelai serat optis.
2. Intalasi jaringan lebih sederhana.

Penambahan kapasitas jaringan pada teknologi serat optic konvensional dilakukan dengan memasang kabel serat optic baru, sedangkan pada DWDM cukup dilakukan penambahan beberapa panjang gelombang baru tanpa harus melakukan perubahan fisik jaringan.
3. Penggunaan penguat lebih efisien.

DWDMmenggunakan penguat optis yang dapat menguatkan beberapa panjang gelombang
sekaligus dengan interval penguatan yang lebih jauh, sehingga penguat optis yang digunakan pada DWDM lebih sedikit dibandingkan pembangkit-ulang yang digunakan pada teknologi serat optis konvensional.
Penguat optis yang digunakan dalam teknologi DWDM adalah EDFA. EDFA merupakan serat
optis dari bahan silika (SiO2) dengan intinya (core) telah dikotori dengan bahan Erbium (Er3+), termasuk ke dalam golongan Rare-Earth Doped-
Fibre Amplifier.
Berikut ini adalah beberapa keunggulan yang dimiliki oleh EDFA, sehingga dapat mendukung teknologi DWDM:
a. Faktor peroleh EDFA sangat tinggi
EDFA pada tahap eksperimen memiliki gain sebesar 40 dB, sedangkan perangkat EDFA
komersial mempunyai gain 20-30 dB dengan memompa energi sebesar 10 mW.
b. Bandwidth lebar
Ion Erbium melepaskan foton dengan interval panjang gelombang 1.530-1.560 nm atau sama dengan bandwidth sebesar 3 THz. Pada interval tersebut redaman yang terjadi pada serat optis hanya berkisar 0,2 dB/km, sehingga EDFA dapat memperkuat puluhan sinyal dengan panjang gelombang yang berbeda secara bersamaan.
c. Noise figure EDFA sangat kecil
Noise figure merupakan perbandingan antara S/Nin dengan S/Nout, sehingga untuk transmisi jarak-jauh akan menghasilkan akumulasi derau optis, namun dengan adanya tapis optis pada perangkat EDFA maka noise figure yang muncul
sangat kecil.
d. Daya keluaran yang besar
Daya keluaran pada EDFA meningkat seiring dengan meningkatnya daya diode laser (optical pump).
e. Kemudahaan instalasi
EDFA mudah diinstalasi karena EDFA juga berbentuk serat.
4. Biaya pemasangan, pemeliharaan dan
pengembangan lebih efisien.

Hal ini akibat arsitektur jaringan DWDM lebih sederhana dibandingkan arsitektur jaringan serat optis konvensional.

Kesimpulan sementara dari membaca beberapa sumber
Dengan analisis perbandingan teknologi DWDM dengan serat optis konvensional seta dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh teknologi DWDM merupakan suatu solusi yang tepat untuk krisis kapasitas pada transmisi data dengan kelebihan
sebagai berikut.
a. Transparan terhadap berbagai trafik yang memungkinkan penjamak SONET/SDH, switch
IP, dan ATM.
b. Kapasitas serat optis yang dipakai lebih optimal.
c. Instalasi jaringan lebih sederhana.
d. Penggunaan penguat lebih efisien.

http://kuliit.blogspot.com/2009/01/dwdm-dense-wavelength

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: